Jumat, 06 Juli 2018

Juli 06, 2018

Kisah Nenek Pembersih Masjid


Alkisah, ada seorang nenek yang setiap hari rutin membersihkan masjid. Ia selalu bersemangat walau dengan tenaga yang seadanya. Tak ada sedikitpun guratan lelah di wajahnya.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan sang nenek diam-diam diperhatikan oleh anak-anak remaja masjid. Mereka merasa iba pada sang nenek karena harus membersihkan masjid seorang diri. Akhirnya anak-anak remaja masjid itu pun membantu membersihkan masjid diam-diam tanpa sepengetahuan sang nenek.
Sampai pada suatu hari, sang nenek sangat terkejut karena beberapa hari ini masjid sudah bersih, padahal ia sama sekali belum membersihkannya. Ia tak tahu siapa yang  telah membuat masjid  itu sudah sangat bersih. Karena penasaran, sang nenekpun berusaha mencari tahu dengan cara sembunyi-sembunyi. 
Tak lama kemudian datanglah anak-anak remaja masjid itu, mereka langsung membersihkan seluruh sudut masjid. Melihat kegiatan anak-anak remaja masjid sang nenek pun langsung menghampiri dengan wajah sedih,  
 “Wahai anak muda, kenapa kalian tega melakukan ini semua kepadaku?”
“Maksudnya Nek? Kami hanya ingin membantu Nenek.” jawab salah satu anak remaja masjid itu dengan raut wajah heran.
“Anak muda, ketahuilah apa yang kalian lakukan telah membuatku sangat sedih beberapa hari ini.” Nenek itu menunduk dengan mata yang sudah berembun.
“Tapi nek, apa salah kami hingga membuatmu sangat sedih seperti ini?” tanya anak muda itu masih dengan raut wajah heran.
“Anakku, aku hanya wanita tua, renta, miskin dan tak berdaya. Hanya sisa tenaga inilah yang bisa aku sumbangkan untuk agama Allah. Ku mohon biarkan aku ikut berkontribusi untuk agama Allah walau hanya dengan membersihkan masjid ini, terima kasih atas kepedulian kalian terhadapku, tapi jangan kasihani aku wahai anak muda, aku sudah tak punya apa-apa, hanya ini yang bisa aku lakukan.” Jelas sang nenek dengan terbata dan mata berkaca-kaca.
Ces!
Semua anak remaja masjid terdiam.
"Percayalah tidak ada kata lelah sama sekali saat kita benar-benar hanya mengharap ridho Allah." lanjut sang nenek.
"Maafkan kami nek jika telah membuatmu sedih, jujur kami hanya ingin membantumu."
"Terima kasih, aku mengerti kebaikan hati kalian. Teruslah berusaha lakukan yang terbaik untuk agama Allah, selagi kalian masih muda, kalian masih punya harta, dan kalian masih memiliki banyak tenaga, tidak seperti aku." Ujar sang nenek tersenyum kecil di hadapan mereka.

____
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengkumpulkan kamu semuanya.Sungguh, Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu.”
(Q.S. Al-Baqarah, 2: 148)


__
Note : Sumber cerita dari materi tausyiah Ustadzah Oki Setiana Dewi.
Semoga ada kebaikan yang bisa kita ambil. Aamiin

Minggu, 24 Juni 2018

Juni 24, 2018

Pengendali Hati

Pict By Tumblr
Saat jatuh cinta, orang yang pendiam akan tiba-tiba bicara panjang lebar, bercerita.

Sementara, orang yang cerewet akan tiba-tiba diam bergeming, mematung.

Fitrah, jika setiap perempuan mampu menaklukkan laki-laki. Hanya saja pembedanya,  perempuan pengendali hati tahu betul bahwa menjaga iman saudaranya lebih utama. Mereka menahan diri, menyembunyikan pesona. Menyimpannya untuk satu orang saja, yaitu seseorang istimewa yang akan berdiri satu shaf di depannya.

Begitu pun dengan setiap lelaki. Laki-laki pengendali hati tahu benar bahwa menjaga iman saudarinya lebih utama. Mereka pun menyimpan pesona spesialnya hanya untuk seseorang yang kelak kakinya akan menjadi surga bagi anak-anaknya.

Sebagai kapten hati sendiri, soal ini bukan lagi bicara tentang kesempatan menghargai perasaan. Justru dengan membatasi dan mengendalikan, perasaan itu semakin termuliakan.

Jangan jatuh cinta selain kepada dia yang namanya memang tertulis untukmu. Dia yang memang disiapkan untukmu. Dia yang memang akan menemukanmu, dan akan kau temukan  di satu waktu. Maka selama menunggu, sibuklah memperbaiki diri. Goreskan sebanyak-banyaknya prestasi. Puaskan setiap hobi. Nikmati masa sendiri. Selesaikan urusan pribadi. Jika saatnya memang sudah tiba, kau akan bertemu seseorang yang tepat. Seseorang yang terdeteksi kuat dalam radarmu. Naluri belulang yang mengenali sang rusuk, pun sebaliknya.

Bersiaplah dan bersikap! Karena kau bukan mencari  seorang pembersih rumah maupun koki handal. Juga bukan membutuhkan seorang pembenar atap bocor maupun jasa antar ke mana saja. 

Saat kau siap mengucap perjanjian yang menggetarkan arasy dan didengar segenap penduduk langit, kau telah memilih perempuan yang akan kau tanggung dosanya selama sisa usia yang ada. Adapun sebaliknya, saat kau siap menerima, itu artinya kau telah memilih lelaki yang akan kau taati sepanjang usianya.

Setelah itu, bukan naskah kisah Cinderella atau putri dongeng manapun yang akan dijalani. Bukan kemegahan kastil istana dan suguhan ratusan piring pudding pesta beserta pelayan yang menanti. Sejatinya, kau akan hidup bersama manusia yang sewaktu-waktu akan membuatmu marah, kesal, dan jengkel. Manusia yang akan menguji semua pertahananmu, mengguncang titik terlemahmu.

Lantas untuk peristiwa peradaban itu, sudah berapa banyak buku yang kau pelajari? Sudah berapa banyak hafalan Alqur'an yang telah dipersiapkan untuk berlayar mengarungi samudera? Sudah seberapa yakin bisa memberi makan dan diberi makan orang lain? Dan Sudah berapa matang persiapan menghadapi makhluk planet asing yang akan menyabotase termometer ego?

Ah ya terkadang kita lupa memperbaiki diri, karena terlalu sibuk mengotori hati dengan cinta yang belum pasti.

Rabu, 20 Juni 2018

Juni 20, 2018

Bidadari Hidupku

Pict By Google
Mari ku ceritakan tentang sebuah cinta yang sulit dijabarkan, 
Tentang sebuah tangan yg mulai melemah demi menguatkan buah hati yang teramat ia cintai,
Tentang mulut yang selalu mendoakan segala kebaikan untuk Malaikat kecilnya tanpa henti.

Dialah bidadari hidupku,
Seseorang yang kala itu mengatakan seluruh rasa sakit saat melahirkan adalah rasa yang paling membahagiakan.
Seseorang yang  merelakan waktu istirahatnya berkurang demi menjaga buah hatinya sepanjang malam.
Seseorang yang berhasil mendidikku menjadi seseorang yang begitu meleleh karena cintanya.

Terkadang aku ingin meminjam hatinya.
Agar aku mengerti, bagaimana caranya mencintai dengan setulus hati. 
Agar aku bisa belajar, bagaimana menjadi perempuan yang tidak pernah merasa lelah merawat dan menjaga keluarganya.
Dan terkadang aku ingin meminjam hatinya.
Agar memiliki hati yang luasnya mampu mengalahkan luasnya samudra.


“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”( QS. Al-Isra:23)


Barakallahu Fii Umrik Mah. 
Semoga Allah selalu menjagamu,
Semoga Allah selalu karuniakan kesehatan dan kebahagian,
Dan semoga Allah jadikan lelahmu bernilai ibadah. 💕

Dari putri yang teramat mencintaimu karenaNYA~

Minggu, 08 April 2018

April 08, 2018

Kenapa masuk RCO?

Pict by Google


Memberikan alasan adalah salah satu hal yang agak sulit untuk segelintir orang, termasuk saya. Alasan pasti ada, tapi entah mengapa jika diungkapkan, saya sendiri tak bisa menjabarkan lebih dari tiga kata, yaitu hanya dengan "InsyaAllah ini baik" selesai. 

Tambahin lagi deh, biar ga dimarahin pije. 

Kalau pertanyaannya kenapa masuk RCO, jawabannya karena insyaAllah RCO adalah kegiatan yang baik. RCO adalah singkatan dari reading challenge odop. Dari nama kegiatannya saja sudah dapat disimpulkan bahwa RCO adalah kegiatan yang insyaAllah baik, karena mengajak kita membiasakan diri untuk membaca buku setiap hari.

Saya sengaja menulis ini setelah seminggu masuk kedalam RCO, karena memang niatnya saya bukan ingin menulis tentang alasan masuk RCO, tapi tentang alasan mengapa saya harus bertahan di Istana buku ini sampai lulus.

Alasan pertama mengapa saya harus bertahan adalah karena melalui RCO saya belajar mencari/membuat kesimpulan dari halaman-halaman yang kita baca atau kalau bahasa kerennya adalah membuat quotes. Quotes tersebut wajib dituliskan di laporan harian, oleh karena itu saya jadi lebih sering membuat quotes dari buku bacaan dan menuliskannya di buku catatan. Kalau dulu biasanya saya baca buku yaa baca saja, paling hanya membawa oleh-oleh sekedarnya setelah selesai membaca, kalau sekarang bawa oleh-olehnya banyak, karena menyimpulkannya bukan hanya di akhir cerita namun di setiap halaman-halaman yang dibaca. Dan oleh-olehnya bukan hanya sekedar pelajaran dari kisahnya saja, melainkan juga dapat pelajaran dalam merangkai kata-kata menjadi satu cerita.

Alasan kedua, saya terkadang bingung dalam memilih buku bacaan, sampai-sampai saya harus membuka beberapa blog teman-teman yang menuliskan resensi buku untuk memutuskan membaca buku apa. Nah, Alhamdulillah setelah ikut RCO saya jadi memiliki beberapa list buku yang harus dibaca karena merasa terekomendasi dari quotes-quotes yang mereka tuliskan dilaporan, tak perlu bingung-bingung lagi dalam mencari rekomendasi buku bacaan. Hehe

Alasan ketiga, tak ada alasan untuk tidak bertahan di istana buku ini, karena diam-diam saya juga mau hadiah buku dari para pije. hehe pisssss

Udah deh segitu aja... Selamat membaca ya, selamat menjelajah dunia lewat aksara. Semoga Allah menitipkan ilmu-ilmu yang bermanfaat melalui buku-buku yang kita baca. :)

Rabu, 07 Maret 2018

Maret 07, 2018

Ya Allah, Maafkan aku, Aku Egois 😭

Pict : @actforhumanity
Ya Allah, Aku Egois 😭
Betapa bahayanya keegoisan yang tersembunyi ini, tidak ada siapapun yang mengetahui, termasuk diri  ini sendiri.

Ya Allah, aku egois 😭
Doaku selalu
"Ya Allah.. berilah aku..."
"Ya Allah.. jadikanlah aku..."
"Ya Allah.. kirimkanlah aku.."
"Ya Allah.. buatlah aku.."

Semuanya untuk "AKU". Hanya "AKU". Selalu "AKU" Egois betul diri ini. Semua kepentingan hidupku selalu kupinta lagi, lagi dan lagi.

Ya Allah, aku egois, aku lupa bahwa ada saudara dibumi sebelah sana yang juga membutuhkan doa. Ada sekumpulan muslim yang tengah dihina kedudukannya, dibunuh keluarganya, dirampas kehormatannya, dan tak sedikit yang terluka. Jerit, tangis, pertumpahan darah telah terjadi sedemikian dahsyatnya.

Hanya siksa dan derita yang mewarnai hari-harinya. Teriakpun percuma, saudara kanan kirinya bernasib sama. Mungkin terbesit dalam benaknya rasa ingin mati saja, tapi mereka sadar itu adalah perbuatan dosa.

Ya Allah.. Ampuni keegoisan diri ini. Andai aku bertukar posisi dengan mereka, mungkin entah apa yang sudah ku adukan kepada-Mu tentang "AKU" yang tak pernah peduli terhadap manusia dalam tindas kedzaliman ini. 😭

____

“Sesungguhnya benteng kaum muslimin di hari perang besar terjadi berada di Ghouta (nama sebuah daerah di Syam), berada di samping kota yang disebut Damaskus, Ia adalah kota terbaik yang ada di Syam.” (HR. Abu Dawud, no. 4298 dan Ahmad, no. 21725)

Allahumman Shuril Muslimin fi kullii makaan wa kullii zaman:') Aamiin Allahumma Aamiin.

Selasa, 27 Februari 2018

Februari 27, 2018

Lelaki yang membuatku jatuh cinta berkali-kali


Tentang seorang lelaki yang teramat aku cintai,

Sosoknya mengajarkan bahwa harta bukanlah segalanya
Karena bahagia hadir dari hati yang selalu bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

Sosoknya mungkin terlihat tak banyak bicara, tapi tak pernah memberi perhatian yang hanya sekedarnya.
Sosoknya begitu kuat,
tak pernah mengeluh demi mengukir kebahagiaan keluarganya.

Lelaki ini mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali.
Sosoknya yang selalu setia mendorongku dari belakang, menarik semangatku dari depan, dan memapah saat aku mulai ingin menyerah.

Teruntuk Ayah terhebat;

Selamat mengingat hari lahir, Ayah tersayang.
Semoga lelahmu bernilai ibadah, semoga engkau selalu dalam lindunganNYA dan
Semoga hatimu selalu dipenuhi rasa bahagia:’)


Uhibbuka Fillah yah, terima kasih karena telah membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya~


Di penghujung bulan februari
Tertanda

anak ayah

Minggu, 18 Februari 2018

Februari 18, 2018

Secangkir teh untukmu

Diantara rintik embun, 
Azan berkumandang, sendu berganti lirih mengetuk gendang telingaku. Segerombol kupu-kupu berlarian ceria merayakan subuh, sebait doaku terlantun dan tersemat namamu.

Hi Tuan apa kabar? Banyak percakapan yang ingin kulakukan denganmu.

Subuh pagi ini begitu indah, banyak burung berkicau menyambut pagiku. Bagaimana dengan pagimu?
Apa kau sudah sarapan? Pagi ini aku membuat pisang coklat keju kesukaanku, apa kau suka? Atau ada makanan lain yang kau suka?

Memang saat ini waktu dan kesempatan belum datang dengan tepat untuk mempertemukan kita lebih dekat. Tapi itu tak menyurutkanku untuk tetap menulis tentang dirimu, sekalipun diri ini belum tahu siapa 'kamu' yang ku tuju. 

Hari ini kita berjarak, Entah jauh atau dekat. Aku cukup percaya lahirku untuk adamu. Bukankah begitu Tuan?

Tetaplah saling menjaga komitmen atas dasar iman.
Aku akan terus belajar, agar kelak akulah yang akan menjadi tempat ternyamanmu untuk pulang.

~Selamat menikmati akhir pekanmu tuan, sampai jumpa diakhir pekan yang akan datang bersama kepulan asap teh yang kubuatkan untuk mengawali pagimu. InsyaAllah


Sabtu, 17 Februari 2018

Februari 17, 2018

Sakura


Sakura….
Wujudnya tak sering dilihat,
Namun hadirnya selalu dirindu oleh semua insan yang terpikat,
Banyak yang menanti,
Karena pesonanya yang sangat menentramkan hati,
Tapi ia tak dapat diraih dengan sesuka hati,
Jangankan untuk diraih, sekedar melihatnya sajapun ia dilindungi.

Begitupun engkau shaliha, 

Hadirmu laksana sebaik-baik perhiasan di dunia,
Oleh karena itu, dirimu harus selalu menjaga maruah diri
Dan membantu menundukkan mata para lelaki.


Untuk urusan hati, mungkin disana sudah ada ia yang menanti 
Ia yang sedang berjuang menaklukkan cinta Sang Illahi,
Untuk dapat membawamu pada sebuah ikatan suci,


Pantaskan dirimu salihah,
Izzah dan ifahmu harus tetap tertata,
Sampai Allah izinkan hati bermuara. ^,^


Sakura...



~Tangerang, langitnya teduh tak berawan~

Senin, 04 Desember 2017

Desember 04, 2017

Terimakasih Odop!


Lulus ?

Serius?

Kok bisa?

Rasa tak percaya ini menyeret kembali memory tentang dimana saya memutuskan untuk bergabung dalam pelayaran odop batch 4. Saat itu saya memang sedang semangat-semangatnya mencoba menghidupkan kembali hoby yang sudah lama terpendam, dan kebetulan secara bersamaan ada informasi tentang pendaftaran untuk ikut dalam pelayaran One Day One Post batch 4. Karena menurut saya ini adalah kesempatan besar untuk belajar, jadi saya putuskan untuk mendaftar.

Beberapa hari kemudian, kalau tidak salah tanggal 13 September, saya menerima pesan yang menginformasikan bahwa saya harus melengkapi persyaratan, yang mana batas waktu pengirimannya hanya sampai tanggal 16 September 2017 pukul lima sore . Ketika tanggal 16 saya berencana mengirimkan persyaratan sebelum jam lima sore, tapi Qadarullah tepat dihari itu juga mama jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit pada pukul tiga sore. Karena kondisi dan situasi sangat tidak memungkinkan, dan perasaan juga sudah tak karuan untuk mengirim persyaratan, akhirnya kesempatan itu pun berlalu begitu saja tanpa sengaja. Sedih ? pasti, karena telah melewatkan kesempatan terbaik. Tapi bukankah Allah sebaik-baik pembuat rencana? Jadi yasudah ikhlas saja mungkin memang belum rezekinya.

Dua hari kemudian kondisi kesehatan Mama Alhamdulillah membaik. Saat itu Mama sempat bertanya tentang persyaratan yang harus saya kirimkan, karena memang sebelum mendaftar saya sempat ceritakan semua ke mama tentang apa yang anaknya ingin ikuti dan tak luput meminta ridho beliau agar mendoakan. Belum sempat menjawab apa yang Mama tanyakan, Qadarullah tiba-tiba ada pesan masuk yang menginformasikan hal yang sama namun deadline pengirimannya berbeda dan pesan tersebut dikirim dari nomor yang berbeda dari pesan pada tanggal 13 (Karena sekarang sudah tahu nama pemilik nomor itu, jadi pesan yang  pertama dikirim oleh Ka Taran dan pesan kedua dikirim dari Ka Ian). Entah ini double, rezeki, rencana Allah atau apa intinya saat itu saya bersyukur ternyata kesempatan untuk ikut berlayar masih ada. Dengan sesegera mungkin saya pun melengkapi persyaratan  dan Alhamdulillah diizinkan untuk ikut berlayar.

Sebelum benar-benar berlayar (sebut saja saat itu sedang masa-masa taarufan hehe), Sang Nahkoda(Kang Heru) menyatakan bahwa “Seleksi Alam” akan berlaku selama pelayaran. Benar saja, sudah banyak yang berguguran saat itu padahal kapal belum bergerak sama sekali meninggalkan pelabuhan. Di awal pelayaran saya khawatir akan bernasib sama seperti mereka, tapi karena tak mau menyia-nyiakan kesempatan kedua yang telah Allah berikan, sayapun masih berusaha untuk bertahan, dan yang pasti karena Allah yang memampukan. Saat di minggu terakhir kapal hampir mendarat, saya nyaris menyerah. Nyaris! Tapi Alhamdulillah lagi-lagi Allah mampukan saya untuk tetap ikut berlayar.

Alhamdulillah kapal menepi dengan indahnya, 2 bulan setengah saya diizinkan ikut serta dalam pelayaran. Yang dimana banyak sekali pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan. Jujur sampai sekarang saya masih tak percaya bisa bertahan sampai kapal menepi ke daratan. Alhamdulillah, MasyaAllah kalau bukan karena Allah yang memampukan, saya tak akan mungkin bisa ikut menepi bersama 47 orang lainya. Karena dasarnya saya hanyalah seorang newbie yang masih belajar, jadi dimaklumi ya kalau tulisannya agak berantakan .

Terimakasih banyak untuk para PJ dan pemateri hebat atas kerendahan hatinya dalam berbagi ilmu-ilmu yang bermanfaat, semoga Allah catatkan sebagai ribuan amal kebaikan. Terimakasih juga untuk Mba Wid yang selalu merangkul agar tetap bertahan selama pelayaran (Maafkan aku yang sering banget izin ya mba hehe). Dan satu lagi terimakasih juga untuk yang selalu menyemangati dengan cara-cara sederhana namun sangat menginspirasi. Jazakumullah Khayran Katsiran, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan balasan terbaik. Aamiinallahumaamiin

Terimakasih Odop! 😊

Jumat, 17 November 2017

November 17, 2017

Jodoh mah gitu #3


Minggu pagi ini matahari memancarkan sinarnya begitu sempurna ke segala penjuru ibu kota. Bahkan BMKG pun menginformasikan hari ini tak akan turun hujan. Biasanya setiap minggu aku pergi menghabiskan waktu untuk bermain dan belajar bersama relawan sekolah anak pantai yang ada di ujung kota. Tapi kali ini aku memutuskan untuk menghadiri liqo mingguan yang ada di masjid alun-alun kota bersama Dhea, Deva, dan Devi ; teman dekatku.

Nampak beberapa jama’ah berlalu-lalang di area masjid, cukup ramai namun tak sedikitpun menghilangkan suasana hangat yang penuh ketenangan. Tepat pukul 08.00 WIB, liqo akan segera dimulai, kam berempat pun segera memasuki masjid. Aku duduk diantara puluhan bidadari pilihan yang hatinya Allah gerakkan untuk datang belajar ke masjid sepagi ini,. Dari shaf pertama hingga shaf terakhir kuperhatikan keanggunan mereka dengan juntaian hijab panjang yang indah menutupi dengan keshalihan dan mata mereka tersenyum ramah menyapa satu dan lainnya. Liqo dimulai dengan bacaan ayat-ayat suci Alquran yang mendesirkan rongga-rongga jiwa. Suasana khidmat membuat jam terasa berputar terlalu cepat, tanpa terasa kami sampai di penghujung acara, yaitu penutup dan doa. Selesai acara para jama”ah bersalaman, sungguh indah suasana liqo yang kusaksikan pagi ini. Nikmatnya merasakan mempunyai saudara seiman yang tak pernah memandang asal, adat istiadat, tahta, bahkan usia. Islam dan iman lah yang menyatukan.

“Eh aku ke toilet dulu ya sebentar” Kataku sedikit tergesa.

“Ana mau di temenin ga?” Tanya Dhea, aku menggeleng dan sedikit berlari kecil menjauh dari tempat mereka berdiri.

“Ana? Eh Mba Ana maksudnya” Kejut lelaki yang berdiri didepanku.

“Loh Mas Rio kok disini? Ndak apa, panggil Ana saja hehe” Kataku menunduk.

“Oke kupanggil Ana ya hehe, Alhamdulillah tadi ikut liqo dimasjid ini. Oh iya btw kamu salah masuk toilet, untuk Akhwat disebelah tuh ada gambarnya” Mas Rio sedikit tertawa kecil dan menunjukkan tangannya ke pintu sebelah.

“Astaghfirullah, maaf Mas buru-buru” Aku malu dan segera berbalik.

“Hati-hati Ana jangan lari” Teriak Mas Rio.

Dengan sedikit mengintip, ku lurik kanan kiri. "Syukurlah Mas Rio sudah pergi" Gumamku dalam hati. Saat beberapa langkah meninggalkan toilet, mata ku langsung tertuju pada sepasang gamis cantik berwarna muda yang bergantung menghiasi bazar masjid. Beberapa temanku ternyata juga sedang melihat-lihat gamis disana. Sekali dayung dua pulau terlewati, mau lihat gamis eh langsung ketemu mereka yang sedari tadi menanti.

“Kok lama banget Na?” Tanya Devi sembari memberikan sebungkus teh kemasan.

“Iya ada trouble yang memalukan tadi, eh gamis yang pink itu bagus ga?” Mataku tersenyum melirik gamis yang tak jauh dari tempat kami berdiri.

“Yang ini?” Lelaki itu tersenyum menunjuk gamis yang ku maksud.

“Kok Mas Rio lagi ? kan Ana masih malu sama kejadian tadi *eh” Aku segera menutup mulut.

“Kejadian apa Na ? ini temen kantor mu ya?” Tanya Dhita penasaran, aku hanya mengangguk.

“Kamu lucu banget si Na hahaha, besok jangan buru-buru lagi ya” Mas Rio tersenyum.

“Namanya juga urgent Mas hahaha” Aku mengelak, “Oh iya duluan ya Mas, sampai ketemu dikantor” Aku menarik tangan temanku dan pergi meninggalkan tempat itu. Mas Rio lagi-lagi tersenyum dan melambaikan tangannya.

“Ana cerita, tadi ada kejadian apa sama si Mas Tyo, Leo, atau siapa namanya aku lupa?” Begitulah kebiasaan Devi, sulit sekali mengingat nama  seseorang, dan sulit juga melupakan kenangan. Tapi ia anak yang baik, kepolosan dan kelucuannya sering membuat kami tertawa lepas.

“Rio Dev namanya” Saut Dhita.

“Oh iya Rio, hampir mirip lah dengan yang kusebutkan tadi hahaha” Devi tertawa.

“Kejadian yang memalukan serius, jadu tadi pas aku buru-buru ketoilet, eh ternyata salah masuk ke toilet cowok, bayangin posisinya disana lagi ada Mas Rio dan dia ketawa. Ah maluuuu! eh tapi bodo amat juga sih, ah tapi gitu deh masa ketahuan banget kejelekannya” Jelasku sembari mengajak mereka duduk di pelataran masjid. Mereka tertawa bersama, dan duduk disebelahku.

“Hufft, terus aja terus ketawain” dengan raut wajah yang tak beraturan.

“Heyy, sejak kapan seorang Ana Malu sama seseorang ? apa lagi cowok ? bukannya diantara kita yang paling punya sifat bodo amat itu kamu, kok tumben?” Celetuk Dhea yang tiba-tiba duduk didepanku.

“Hayoo, kamu suka ya sama Mas Rio?” Tanya Dhita mencurigai.

Bersambung

Jumat, 10 November 2017

November 10, 2017

Tentang Malam


Malam ini banyak hal yang ingin kutuliskan, tapi bagaimana cara terbaik untuk memulai ?

“Cobalah keluar sejenak dan pandangi langit malam, mungkin itu bisa membantumu menyelesaikan tulisan-tulisan itu” Katamu.

Mataku menyipit, senyum terkembang beranjak mencari keindahan malam.

Hei! Bintang bersinar indah di atas sana, bergantungan laksana lampion jingga yang mengagumkan mata. Satu, dua, tiga. Ah, sayang aku selalu gagal untuk menghitungnya. Tapi ini menyenangkan, walau tak pernah kutemukan jawabannya. Ini seumpama, layaknya ribuan nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya.

Kepada bintang yang selalu menghias malam. Terimakasih telah hadir menyempurnakan gelapnya  malam. Dan kepada kamu. Terimakasih telah mengajakku bersyukur melalui keindahan langit malam. Kau benar, bahwasanya malam tak selalu tentang kelam dan tak selamanya bicara kesunyian. 

Selasa, 03 Oktober 2017

Oktober 03, 2017

Mawar berduri

Pict By Google
~Via, 03 Oktober 2017~
"Sebaik-baik manusia adalah yang hadirnya membawa manfaat dan kepergiaannya meninggalkan ma’rifat." 

Beberapa hari lalu saya mendapatkan sebuah audio dari sahabat saya melalui aplikasi WA. Dan ingin sekali rasanya menuliskan kembali cerita yang ada didalam audio tersebut, dengan harapan dapat membuat beribu-ribu rantai kebaikan. Aamiin Allahumma Aamiin

Kejadian cerita di dalam audio tersebut terjadi pada tahun 1998. Ketika seorang motivator diundang untuk mengisi training motivasi di salah satu SMA Bogor. Pesertanya terdiri anak-anak kelas X dan XI SMA. Acara training motivasi itu berlangsung begitu khidmat, ya layaknya training motivasi yang biasa kita ikuti.  Selalu berhasil membuat kita bersemangat dan menggebu-gebu dalam memulai langkah perubahan. Namun tak jarang ada yang main-main, sehingga tak memperoleh hidayah dari segenap rangkaian acara.

Pada akhir sesi motivasi, sang motivator memberikan secarik kertas pada masing-masing peserta. Mereka diminta menggambar sebuah gambar yang mampu mendeskripsikan apapun mengenai mereka. Semua menggambar, tapi karena sedikit yang  serius, sebagian dari mereka menerangkan gambarnya dengan bercanda, bermain-main, dan tertawa. Dari sekian banyak peserta, hanya seorang perempuan yang bernama Ummu lah yang menggambarkan gambarnya dengan penuh arti. Sang motivator terdiam sejenak, karena melihat gambar Ummu berbeda dengan peserta yang lain.

“Ummu, apa yang kamu gambar itu?” tanya motivator itu.

“Saya menggambar mawar berduri.” jawab Ummu.

“Apa maksudnya?” Tanya motivator meminta penjelasan.

“Mawar itu sempurna karena ada duri. Mawar itu sempurna justru karena ia memiliki duri. Hanya saja banyak orang berkata bahwa duri pada mawar mengurangi keindahan mawar, merusak keelokannya, dan mengganggu kesempurnaan pada mawar. Padahal duri itulah yang membuat mawar dikatakan mawar. Karena duri itulah mawar begitu terlihat sempurna.” jelas Ummu.tersenyum.

“Lalu apa hubungannya dengan kamu?” tanya motivator itu penasaran.

“Saya menggambarkan diri saya adalah perempuan seperti mawar. Dan duri itu adalah aturan Allah untuk saya sebagai seorang perempuan. Banyak orang bilang aturan Allah pada diri perempuan itu merusak keindahan perempuan, membuat perempuan susah gaul, sulit bekerja, menghalangi beraktivitas dan lain sebagainya. Padahal seperti duri pada mawar, aturan itulah yang membuat perempuan disebut perempuan. Saya mawar berduri. Saya perempuan dengan apa yang Allah mau untuk saya lakukan akan saya lakukan. Dengan apa yang Allah mau untuk saya kenakan akan saya kenakan. Dengan apa yang Allah mau untuk saya rasakan akan saya rasakan. Dan dengan apa yang Allah mau untuk saya katakan akan saya katakan. Maka saya mawar beduri, saya perempuan dengan apa yang Allah mau, akan ada pada diri saya.” kata Ummu lagi-lagi dengan seulas senyum di bibirnya.

Untaian kalimat itu seketika membuat seisi ruangan yang awalnya ribut laksana lebah yang sedang terbang, tiba-tiba hening dan terhenyak dengan segala hikmah yang datang bersama penjelasan Ummu.

“Kemudian kenapa latar belakangnya berwarna hitam? Kenapa tidak kuning, merah, biru, atau warna lainnya yang lebih cerah? Mengapa kamu memilihkan warna gelap?” Tanya motivator yang begitu antusias.

Lalu Ummu menjawab dengan jawaban yang luar biasa untuk anak kelas X SMA sepertinya, “Kak, saya tidak mau menjadi mawar berduri di tengah taman. Kalau saya menjadi mawar berduri di tengah taman, gampang bagi orang untuk memetik saya. Hanya ada denda 50 ribu atau beberapa bulan kurungan lalu orang dengan mudah memetiknya, saya tidak mau seperti itu. Saya ingin menjadi mawar berduri di tepi jurang, maka dari itu saya memberi background hitam gelap di belakangnya.”

“Maksudnya?” Tanya motivator meminta penjelasan lebih dalam.

“Saya ingin menjadi mawar berduri di tepi jurang, karena suatu saat saya yakin jikalau kelak ada seorang laki-laki yang memetik saya. Dia pasti laki-laki yang paling berani mengorbankan nyawanya untuk saya. Karena terdapat resiko besar memetik bunga di tepi jurang bukan sekedar denda atau kurungan satu dua bulan, tapi nyawanya.” Jawab Ummu tersenyum penuh kepercayaan.

MasyaAllah, luar biasa. Semoga kita para perempuan dapat terus belajar menjadi seperti mawar berduri di tepi jurang yang selalu mengindahkan semua aturan dan ketentuan Allah. Karena yakinlah, semua yang Allah tetapkan untuk kita itu adalah sebuah ketetapan terbaik yang tak pernah kita duga sebelumnya.


.

Senin, 02 Oktober 2017

Oktober 02, 2017

Berjarak untuk saling memperbaiki

Pict By Google
~Via, 02 Oktober 2017~
"Semoga kelak tangan ini yang akan menggamit tangan ayahmu suatu hari nanti." Katamu.

Tep! Ada sesuatu yang menyentak kedalaman hati dan pikiranku.

Aku diam. Kamu diam. Hening

"Siapapun nanti, Allah tak akan salah dalam memberi." Kataku sedikit melirikmu dan tersenyum kecil.

Kamu masih diam di tempatmu. Bertahan bersama secangkir harap yang mengepul hangat pada tiap hembusan doa.

Dan aku melangkah pergi. Memilih sebuah tempat yang 'jauh' dari tempatmu. Ini bukan luka, hanya perasaan yang terlalu sukar untuk aku terjemahkan.

Biarlah aku memilih sepi. Sampai aku memahami apa yang belum kumengerti.

Terimakasih untuk kebaikan yang pernah kau beri. Kurasa, saat ini kita memang butuh berjarak untuk sama-sama saling memperbaiki. Entah hanya sementara atau selamanya.

Tetaplah seperti ini, saling menjaga walau hanya dengan sebait doa.

Rabu, 27 September 2017

September 27, 2017

Sebait doa dalam rintikan hujan

Pagi ini derasnya jatuh dengan rintik yang tiba-tiba datang tanpa kabar. Dari balik jendela senyum berkembang, dalam hening menatap tiap tetesan yang menetes berirama.

Tirai jendela sedikit tersibak oleh semilir angin pagi. Tampak burung-burung berlarian dengan riang menikmati hujan yang mulai mereda. Kutembus rintiknya menapaki jalanan basah bersama aroma dedaunan yang menyapa.

Tetesan airnya laksana cinta yang tak terhingga dari Sang Pencipta, tak terhitung, tak terbendung, bercucuran setiap detiknya. Terkadang aku ingin seperti hujan, yang dapat menentramkan hati dan hadirnya selalu dinanti.

Tidak ada alasan untuk tak menyukai hujan, sama sepertiku yang tidak mempunyai alasan untuk tak menyapamu melalui doa dan tulisan diantara rintik hujan pagi ini.

Hai, Apa kabar? Apakah kita sedang menikmati hujan yang sama?
Mengeja setiap tetes yang tak pernah bisa kita perlambat walau sedetik saja. Saat ini langit sedang terbuka menunggu doa-doa kita yang siap diijabah olehNYA dan semoga engkau selalu dalam lindunganNYA.

“Allahumma Shoyyiban Naafi’aa”
Pict By google

About

authorBukan siapa-siapa, hanya fakir ilmu yang dipertemukan denganmu melalui tulisan disini ✌.
Learn More →



"Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain."(HR.Thabrani dan Daruquthni),